Postingan

KH. Ahmad Maimun Alie, Lc, MA

Bidani Kelahiran FSPP USIANYA memang masih relatif muda. Tapi tokoh ini telah banyak makan asam garam pendidikan dan berpengalaman mendadar (mengkader) santri. Maka tidak berlebihan bila suami Hj. Nia Husnia ini dipercaya menakhodai Pondok Pesantren Subulussalam Kresek, Tangerang. Lelaki berpenampilan kalem memiliki nama lengkap KH. Ahmad Maimun Alie, Lc, MA. Usianya menginjak 50 tahun. Dia merupakan kader Al Khairiyah yang lama digodok di Pesantren Moderen Gontor Ponorogo (1978).  Tak puas  mendalami ilmu hukum di Universitas Jakarta (Unija), ia hijrah ke Timur Tengah untuk belajar hukum Islam di Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah (1985). Program studi yang sama juga digelutinya selama satu tahun di International Islamic University Islamabad (1987). Kemudian, bapak sepuluh putera (lima pria dan lima wanita)   ini mengambil gelar MA di bidang Islamic studies pada Universitas Ahlul Hadits, Faisalabad. Meski belakangan dunia pesantren s...

H. Hasan Alaydrus

Islamkan Seribu Warga Badui PERJUANGAN H. Hasan Alaydrus meningkatkan status Banten menjadi provinsi pada dekade 60-an, menghantarkannya sampai ke penjara. Namun, meski telah disekap selama empat bulan di kamar ‘hotel prodeo’ Kodam III Siliwangi yang pengap, idealisme lelaki kelahiran 17 Agustus 1944 itu tak luntur. Kokohnya terali besi, justru semakin membentuk karakter juangnya yang konsisten. Di tengah ancaman Kristenisasi, Hasan berhasil meng-Islamkan 1.000 warga Badui. Sejak remaja, lelaki ‘gila’ organisasi ini memang memiliki kebiasaan unik. Ketika teman-teman sepermainannya sedang keranjingan budaya pop, ia malah memilih profesi sebagai tukang memandikan, mengkafani, mensalati dan mengubur orang mati. Kebiasaan ini dijalaninya sejak Hasan masih berusia 13 tahun. “Jabatan sebagai tukang memandikan orang mati, saya warisi dari orangtua dan kakek. Terus terang, saya bangga bisa melakukan pekerjaan yang tidak semua orang mampu melakukannya tersebut,“ ujar Hasan Alaydrus menge...

Tentang Saya

TENTANG SAYA SYAIR ASIMAN lahir di Lampung Timur, 17 Juli 1972. Ia merupakan anak ke-6 dari  10 bersaudara pasangan Asiman dan Sawinah. Salah seorang pendiri Forum Remaja Islam Masjid (Risma) Labuhan Maringgai, Lampung Timur ini menggeluti dunia menulis sejak usia SLTP. Ketika duduk di bangku kelas II MTs Al Ihsan Labuhan Maringgai, misalnya, tulisannya pernah nongol di majalah anak-anak terbitan ibu kota. Sejak itu, ia kian giat mengasah insting menulisnya dengan mengikuti berbagai kursus jurnalistik hingga tingkat Jawa Barat. Hasilnya, beberapa tulisannya sempat dimuat di Majalah Media Pembinaan  dan  Panjimas. Ketika itu, mantan aktivis Himpunan OSIS Madrasah Aliyah (Hosma) Kab. Serang tersebut masih duduk di kelas I MA Al Khairiyah Tegalbuntu, Kota Cilegon. Dunia menulis terus digelutinya hingga berstatus mahasiswa. Pada semester awal, ia ikut membidani kelahiran Majalah SIGMA IAIN Serang. Kemudian pada semeter  akhir, mantan aktivis...

Dr. Fatah Sulaiman

Jihad Mengangkat Wibawa Pesantren NAMA Fatah Sulaiman   memang belum   bisa disejajarkan dengan para ulama senior yang ada di Banten. Sebab pria kelahiran Serang, 6 Oktober 1968 ini lebih banyak menghabiskan masa mudanya dengan belajar di lembaga pendidikan umum. Namun dalam dada lelaki ini tertanam tekad untuk membangkitkan dunia pesantren di daerah eks karesidenan ini. Setamat SMUN 1 Serang misalnya, ia melanjutkan ke Fakultas Teknik Kimia Universitas Indonesia (1994). Bidang tersebut, ia dalami di Pascasarjana (S-2), juga  pada Universitas Indonesia (2002). Ilmu-ilmu Islam secara formal digelutinya di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam dan Madrasah Tsanawiyah Nurul Islam. Kecintaan suami Dra. Omah Rohmawati ini pada dunia teknik kimia, menghantarkannya menjadi Ketua Jurusan Teknik Kimia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang sejak 1999.  Kedudukan menggiurkan tersebut, tidak lantas menjadikannya lupa terhadap almamater. Sambil teru...

Ponpes Bany Abdillah Tegalbuntu Cilegon

Akrab dengan Piranti Modern SIAPAPUN tak akan menyangka, kamar berukuran 4X4 M2 berdinding bilik itu, kelak akan menjadi pesantren bergengsi dan megah di Provinsi Banten. Dari pesantren di pusar Kota Industri itu, kelak lahir ratusan mujahid dakwah. Di antara mereka, bahkan ada yang kini menjadi tokoh nasional.   Seiring dengan perjalanan dan tuntutan zaman, pesantren berlokasi di Tegalbuntu Kecamatan Ciwandan Kota Cilegon itu kini menjelma menjadi pesantren modern. Bangunannya pun tak lagi berbentuk bilik, namun berdiri kokoh disangga beton dan kaki cakar ayam. Itulah Pondok Pesantren Bany Abdillah atau lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Tegalbuntu. Nama pesantren tersebut diambil dari nama pendirinya, yakni KH Abdullah. Sang pendiri yang juga murid KH Syam’un Citangkil, mungkin juga tak menyangka kalau kelak Bany Abdillah akan  menjadi salah satu pusat kajian ilmu Islam terkemuka di Banten. Di awal perkembangannya, jumlah santri di pesantren y...

Ponpes Al-Fata Kota Serang

Sering Disambangi Artis   PARA remaja atau anak baru gede (ABG) yang ingin sering melihat artis,  mesantren saja di Al-Fata. Selain dijamin mendapat banyak bekal ilmu agama, santri di pesantren ini memiliki banyak peluang untuk sering bersalaman atau minta tanda tangan para artis Ibu Kota.   Pasalnya, pesantren berlokasi di Jl. Ciwaru Raya No. 9B Kompleks Permata Blok Lapangan Sepakbola Ciwaru itu sering dikunjungi artis-artis Ibu Kota. Selain datang sendiri karena ingin menikmati suasana pesantren, beberapa artis datang karena diundang oleh pihak pengasuh pesantren. Sejak berdiri tahun 80-an, entah sudah berapa puluh artis yang berkunjung ke pesantren  di tengah kompleks perumahan tersebut. Yang pasti, dari album foto milik pesantren terekam puluhan jejak artis yang pernah berkunjung. Di antara mereka ada yang hanya sekadar silaturahmi dengan pengasuh pesantren, tapi tak sedikit pula yang datang untuk memberikan tausiah dan membagi pengala...

Ponpes Bustanul ‘Awamil

Kobong di Kaki Gunung Karang SEPINTAS bangunan berbentuk Liter U tersebut tak mungkin disangka pesantren. Selain hanya beberapa meter dari tempat pemakaman umum (TPU), kobong berbilik anyaman bambu terbuat berada  di tengah persawahan. Untuk menuju ke lokasi, kita harus menyusuri galengan sawah sejauh 500 meter. Itu baru sedikit dari sekian banyak keunikan Pondok Pesantren Bustanul Amawil. Tempat pendadaran akidah sekitar 30 santri tersebut, bukan unik tapi juga nyentrik. Unik, karena pesantren di kaki Gunung Karang tersebut konsisten bertahan dalam tradisi klasik. Padahal, lingkungan di sekelilingnya tak lagi sepi dari serbuan modernisasi. Maklum, pesantren yang baru berusia sewindu tersebut hanya satu kilo meter dari Alun-alun Pandeglang. Sementara disebut nyentrik, karena para santri di Ponpes Bustanul Awamil merupakan perbauran antara anak-anak baru gede (ABG) dan santri kolot. Di antara para santri misalnya, ada yang sudah berkeluarga dan berasal dari ...